aku ingin mencintanya
aku ingin sayanginya
aku ingin menciumnya
aku ingin memeluknya
aku ingin bersamanya
tapi apa aku bisa?
aku takut apa?
jika aku ungkap rasa
dia akan sirna
sedang dia bintang di sana
aku ilalang di sini saja
apa mungkin bisa bersama?
Kamis, 29 Mei 2008
Rabu, 28 Mei 2008
Senin, 26 Mei 2008
Tuhan Telah Menegurmu
Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
lewat perut anak-anak yang kelaparan
Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
Lewat semayup suara adzan
Tuhan telah menegurmu dengan cukup kesabaran
lewat gempa bumi yang berguncang
deru angin yang meraung kencang
hujan dan banjir yang melintang pukang
Adakah kau dengar ?
puisi oleh Apip Mustofa
lewat perut anak-anak yang kelaparan
Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
Lewat semayup suara adzan
Tuhan telah menegurmu dengan cukup kesabaran
lewat gempa bumi yang berguncang
deru angin yang meraung kencang
hujan dan banjir yang melintang pukang
Adakah kau dengar ?
puisi oleh Apip Mustofa
Dengan Kasih Sayang
Dengan kasih sayang
kita simpan bedil dan kelewang
punahlah gairah dalam darah
Jangan !
Jangan dibunuh para lintah darat
ciumlah mesra anak jadah tak berayah
dan sumbatlah jarimu pada mulut peletupan
karna darah para bajak dan perompak
akan mudah mendidih oleh pelor
Mereka bukan tapir atau badak
hatinyapun berurusan dengan cinta kasih
seperti jendela yang terbuka bagi angin sejuk !
Kita yang sering kehabisan cinta untuk mereka
cuma membenci yang nampak rompak
Hati tak bisa berpelukan dengan hati mereka
Terlampau terbatas pada lahiriah masing pihak
Lahiriah yang terlalu banyak meminta !
Terhadap sajak yang paling utopis
bacalah dengan senyum yang sabar
Jangan dibenci kaum pembunuh
Jangan biarkan anak bayi mati sendiri
Kere-kere jangan mengemis lagi
Dan terhadap penjahat yang paling laknat
pandanglah dari jendela hati yang bersih
puisi oleh WS. Rendra
kita simpan bedil dan kelewang
punahlah gairah dalam darah
Jangan !
Jangan dibunuh para lintah darat
ciumlah mesra anak jadah tak berayah
dan sumbatlah jarimu pada mulut peletupan
karna darah para bajak dan perompak
akan mudah mendidih oleh pelor
Mereka bukan tapir atau badak
hatinyapun berurusan dengan cinta kasih
seperti jendela yang terbuka bagi angin sejuk !
Kita yang sering kehabisan cinta untuk mereka
cuma membenci yang nampak rompak
Hati tak bisa berpelukan dengan hati mereka
Terlampau terbatas pada lahiriah masing pihak
Lahiriah yang terlalu banyak meminta !
Terhadap sajak yang paling utopis
bacalah dengan senyum yang sabar
Jangan dibenci kaum pembunuh
Jangan biarkan anak bayi mati sendiri
Kere-kere jangan mengemis lagi
Dan terhadap penjahat yang paling laknat
pandanglah dari jendela hati yang bersih
puisi oleh WS. Rendra
Kamis, 15 Mei 2008
kepada Yth. Kekasihku
terima kasih engkau telah menyempatkan diri berkunjung ke ruang batinku.
"Sesaat sebelum engkau berangkat" Istirahatlah di dalam,
diluar peradaban hanya akan merebut seluruh jiwa dan ragamu,
membuatmu lelah menempuhnya.
Di cakrawala seorang rembulan pun tampak sudah sangat tua,
letih menampung malam seorang diri sudah sejak hari yang pertama.
apa apa yang tertera di langit dan apa apa yang terjadi dibumi
akan kugubah menjadi sajak cinta, semoga berkenan membacanya.
sebab engkau menjadi tamuku yang terakhir, siapapun engkau.
Izinkan aku mengajak dan memilihmu sebagai sahabat sejalan.
negeri impian dan cita-citaku teramat jauh,
kakiku tak akan sanggup merengkuhnya.
aku butuh teman yang sanggup membebaskanku dari rasa asing,
sepi, letih dan seterusnya, apakah engkau tidak pernah tau,
bahwa rasa sepi itu sangat jahat.
tapi sepi memang abadi,
tamu manusia yang tak pernah diundang.
sekali lagi terima kasih, sipapun engkau, aku cinta padamu.
Bandung, juli 2004
sapardi Djoko Damono..
"Sesaat sebelum engkau berangkat" Istirahatlah di dalam,
diluar peradaban hanya akan merebut seluruh jiwa dan ragamu,
membuatmu lelah menempuhnya.
Di cakrawala seorang rembulan pun tampak sudah sangat tua,
letih menampung malam seorang diri sudah sejak hari yang pertama.
apa apa yang tertera di langit dan apa apa yang terjadi dibumi
akan kugubah menjadi sajak cinta, semoga berkenan membacanya.
sebab engkau menjadi tamuku yang terakhir, siapapun engkau.
Izinkan aku mengajak dan memilihmu sebagai sahabat sejalan.
negeri impian dan cita-citaku teramat jauh,
kakiku tak akan sanggup merengkuhnya.
aku butuh teman yang sanggup membebaskanku dari rasa asing,
sepi, letih dan seterusnya, apakah engkau tidak pernah tau,
bahwa rasa sepi itu sangat jahat.
tapi sepi memang abadi,
tamu manusia yang tak pernah diundang.
sekali lagi terima kasih, sipapun engkau, aku cinta padamu.
Bandung, juli 2004
sapardi Djoko Damono..
Rabu, 07 Mei 2008
masih ada
siang ini terang
tak terasa panasnya
mendung menutup mentari
angin semilir mendinginkan
ruang luas terasa sepi
tak ada orang di sini
hati juga sedang terang
tak terasa terangnya
ada mendung selimuti
angin terbangkan asa
ruang sempit terasa hampa
tak ada orang di sana
cinta
rindu
sayang
benci disakiti
senyum bahagia
menangis bersedih
tertawa gembira
semua masih ada
semua masih terasa
tapi....
untuk siapa kepada siapa
buat apa bagaimana
sedang sepinya sendiri
tak ada orang di sini
keluarga tak menemani
kekasih lama pergi
tak pernah jua ia kembali
lalu teman jauh berdiri
tak pernah mau dekati
tapi senyum tetap ada
dan rindu sayang dan cinta
masih juga senyum dan tangis
berserta seluruh sakitnya
untuk siapa kepada siapa
aku tentunya
tak terasa panasnya
mendung menutup mentari
angin semilir mendinginkan
ruang luas terasa sepi
tak ada orang di sini
hati juga sedang terang
tak terasa terangnya
ada mendung selimuti
angin terbangkan asa
ruang sempit terasa hampa
tak ada orang di sana
cinta
rindu
sayang
benci disakiti
senyum bahagia
menangis bersedih
tertawa gembira
semua masih ada
semua masih terasa
tapi....
untuk siapa kepada siapa
buat apa bagaimana
sedang sepinya sendiri
tak ada orang di sini
keluarga tak menemani
kekasih lama pergi
tak pernah jua ia kembali
lalu teman jauh berdiri
tak pernah mau dekati
tapi senyum tetap ada
dan rindu sayang dan cinta
masih juga senyum dan tangis
berserta seluruh sakitnya
untuk siapa kepada siapa
aku tentunya
Langganan:
Postingan (Atom)