Senin, 28 April 2008

Lumpur menyembur di Sidoarjo


Oleh : Taufiq Ismail

Ketika lumpur menyembur dan menghambur,
dari jauh dalam di bawah petala sana,
kemudian merayap menggenangi bumi, tanah, sawah,
ladang, kampung dan kota,
lumpur menyembur-nyembur, hitam warnanya,
berasap-asap putih racunnya.
Manusia berlarian menyelamatkan diri, membawa bungkusan seadanya,
menggendong bayi memangku anak, memapah orang lanjut usia,
menggotong tetangga sakit tak berdaya.
Mereka berlarian, berkejaran, bertebaran,
melarikan hidup melompati tebing kesengsaraan.

Lumpur hitam meninggi, semata kaki, setulang-kering,
lumpur hitam melembung, sedengkul, sepinggang,
kemudian mencapai pintu rumah,
lalu menutup atap genting merah.
Lumpur menyembur-nyembur, hitam warnanya,
berasap-asap putih racunnya.

Lumpur hitam satu hektar merambatnya,
lumpur panas sepuluh hektar genangannya,
lumpur derita seratus hektar luasnya,
sepanjang mata memandang,
lumpur panas telah menjadi lautan,
menutup tanah, sawah, ladang,
rumah, bangunan dan kota,
beratus ribu nyawa berkubang lumpur sengsara.

Matahari terbit, matahari tenggelam,
bulan sabit terbit, bulan purnama tenggelam,
minggu datang, minggu tenggelam,
bulan tiba, bulan tenggelam.
Lumpur menyembur-nyembur, hitam warnanya,
berasap-asap putih racunnya.

Lumpur menjebol tanggul, lumpur menutup jalan raya,
lumpur mengamblaskan desa, lumpur merenggut hidup,
lumpur hitam pekat bau menyengat,
beribu pengungsi hidup semakin berat.
Apa yang salah, siapa yang salah? Kami luar biasa lelah
Apa yang terlambat, siapa yang digugat?

Benarkah sebagai bangsa kita sudah tersesat?
Baru saja masuk ke dalam bencana,
belum usai keluar dari bencana,
sudah terjerumus lagi ke dalam bencana,
belum selesai dari bencana,
terpuruk lagi ke dalam bencana.

Kami luar biasa lelah,
ketika lagi kepada suatu alamat kami menengadah,
kepada Dikau Ya Allah,
kuatkan kami dalam ikhtiar mengatasi lelah,
melawan sengsara seperti tak sudah-sudah.

Tidak ada komentar: